Penurunan anggaran Perpusnas menjadi isu penting dalam dunia pendidikan karena perpustakaan memiliki peran besar dalam membangun budaya baca dan literasi siswa. Ketika anggaran untuk perpustakaan nasional mengalami penyesuaian, dampaknya tidak hanya terasa pada lembaga pusat, tetapi juga dapat memengaruhi program literasi, layanan perpustakaan, digitalisasi koleksi, hingga dukungan untuk sekolah dan masyarakat.
Perpusnas memiliki peran strategis dalam mendukung akses bacaan, pelestarian naskah, pengembangan perpustakaan, dan peningkatan kecakapan literasi masyarakat. Pada 2026, Perpusnas disebut mengalami efisiensi anggaran menjadi Rp377,9 miliar atau 47,6 persen, meskipun lembaga ini tetap menyatakan komitmen untuk meningkatkan kecakapan literasi. Sementara itu, pembahasan anggaran 2026 juga menyoroti keterbatasan fiskal dan kebutuhan dukungan tambahan agar program literasi tetap berjalan optimal.
Mengapa Anggaran Perpusnas Penting untuk Pendidikan?
Anggaran Perpusnas bukan hanya urusan administrasi lembaga. Di balik angka anggaran, ada banyak program yang berkaitan langsung dengan akses pengetahuan. Perpustakaan berperan dalam menyediakan sumber bacaan, memperluas akses literasi, mendukung pembelajaran, dan membantu masyarakat mendapatkan informasi yang berkualitas.
Dalam konteks pendidikan, perpustakaan menjadi ruang penting bagi siswa dan guru. Siswa membutuhkan bahan bacaan yang beragam untuk memperluas wawasan, sedangkan guru membutuhkan referensi yang relevan untuk mengembangkan pembelajaran. Ketika dukungan anggaran berkurang, program pengadaan bahan bacaan, pembinaan perpustakaan, atau layanan literasi berisiko berjalan lebih terbatas.
Komisi X DPR RI juga menekankan pentingnya dukungan anggaran yang memadai agar pembangunan literasi nasional, pelestarian naskah kuno, digitalisasi koleksi, dan penguatan layanan perpustakaan dapat terus berjalan optimal. Hal ini menunjukkan bahwa literasi pendidikan tidak dapat dipisahkan dari keberlanjutan dukungan terhadap perpustakaan.
Dampak Penurunan Anggaran Perpusnas terhadap Literasi Pendidikan
Penurunan anggaran dapat menimbulkan beberapa dampak terhadap ekosistem literasi. Dampaknya mungkin tidak selalu langsung terlihat di kelas, tetapi dapat terasa melalui berkurangnya jangkauan program, keterbatasan fasilitas, dan lambatnya pengembangan layanan.
1. Akses Bacaan Bisa Menjadi Lebih Terbatas
Salah satu dampak yang perlu diperhatikan adalah akses terhadap bahan bacaan. Perpustakaan perlu terus memperbarui koleksi agar pembaca mendapatkan sumber informasi yang relevan. Jika ruang anggaran semakin terbatas, pembaruan koleksi buku, bahan digital, dan sumber belajar pendukung bisa ikut melambat.
Bagi siswa, akses bacaan yang terbatas dapat mengurangi kesempatan untuk membaca buku di luar buku pelajaran. Padahal, literasi tidak hanya dibangun dari kemampuan membaca teks sekolah, tetapi juga dari kebiasaan mengeksplorasi berbagai bacaan.
2. Program Literasi Berisiko Berkurang Jangkauannya
Perpusnas menjalankan berbagai program literasi untuk masyarakat. Salah satunya adalah Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial atau TPBIS. Dalam penyesuaian anggaran 2026, Perpusnas menyebut akan tetap menjalankan program prioritas, tetapi dengan pengurangan lokus TPBIS dari sekitar 1.000 menjadi 650 titik lokasi.
Pengurangan jangkauan seperti ini dapat berdampak pada daerah yang membutuhkan pendampingan literasi. Sekolah, komunitas, dan perpustakaan daerah mungkin perlu mencari cara tambahan agar kegiatan membaca tetap berjalan aktif.
3. Digitalisasi Koleksi Bisa Melambat
Digitalisasi menjadi kebutuhan penting dalam dunia pendidikan modern. Melalui koleksi digital, siswa dan guru dapat mengakses bahan bacaan dengan lebih mudah, terutama ketika sumber fisik terbatas. Namun, digitalisasi membutuhkan anggaran, tenaga, teknologi, dan proses yang berkelanjutan.
Sebelumnya, Perpusnas pernah menyebut masih ada lebih dari 6.000 naskah yang belum sempat didigitalisasi karena keterbatasan dana. Jika anggaran terus terbatas, proses digitalisasi koleksi penting berisiko berjalan lebih lambat.
4. Sekolah Perlu Lebih Kreatif Menguatkan Literasi
Di tengah keterbatasan anggaran, sekolah tetap dapat mengambil peran aktif. Guru dapat membuat program membaca mingguan, pojok baca kelas, proyek literasi, diskusi buku, atau kegiatan presentasi hasil bacaan. Kegiatan sederhana seperti ini dapat menjaga budaya baca tetap hidup di lingkungan sekolah.
Guru juga bisa memanfaatkan media pembelajaran visual agar literasi tidak hanya bergantung pada buku teks. Misalnya, menggunakan presentasi, infografis, poster, dan LKPD untuk membantu siswa memahami isu pendidikan dan literasi secara lebih menarik.
Peran Guru dalam Menjaga Budaya Literasi
Guru memiliki peran penting sebagai penggerak literasi di kelas. Ketika akses bacaan belum merata, guru dapat menjadi jembatan antara siswa dan sumber pengetahuan. Guru bisa memilih bacaan pendek, membuat pertanyaan pemantik, mengajak siswa berdiskusi, lalu menghubungkan bacaan dengan kehidupan sehari-hari.
Pembelajaran literasi juga dapat dibuat lebih humanis. Siswa tidak harus langsung diberi teks panjang. Mereka bisa mulai dari infografis, kutipan, artikel ringan, cerita pendek, atau data sederhana. Setelah itu, guru dapat mengajak siswa menyampaikan pendapat, menulis kesimpulan, atau membuat presentasi singkat.
Kesimpulan
Penurunan anggaran Perpusnas dapat berdampak pada literasi pendidikan, terutama dalam hal akses bacaan, jangkauan program, digitalisasi koleksi, dan penguatan layanan perpustakaan. Meski begitu, upaya membangun budaya literasi tetap bisa dilakukan melalui kolaborasi antara pemerintah, sekolah, guru, perpustakaan, dan masyarakat.
Bagi guru, isu ini dapat menjadi bahan pembelajaran yang relevan untuk mengajak siswa memahami pentingnya literasi. Dengan media yang tepat, siswa dapat belajar bahwa membaca bukan hanya kegiatan akademik, tetapi juga bekal penting untuk berpikir kritis, memahami informasi, dan berpartisipasi dalam kehidupan bangsa.


